Kami yang Terbaik - Nikmati Layanan Travel Pribadi, Booking dan Cetak Tiketnya Sendiri - Sampai Dengan Saat ini Jumlah Member mencapai 4.513 dan telah mentransfer komisi sebesar Rp. 1,229,625,414.00

JADILAH JUTAWAN-JUTAWAN BARU DARI BISNIS TIKET PESAWAT ONLINE

Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

Rekan Netter ...

Prospek Bisnis online di bidang penjualan tiket pesawat masih sangat besar peluangnya, selama perusahaan penerbangan masih ada dan dunia pariwisata terus berkembang, bisnis tiket pesawat masih layak untuk dipertimbangkan, hal yang perlu diperhatikan adalah menjamurnya pusat penjualan tiket dimana – mana, sehingga daya saing semakin tinggi, perlu suatu terobosan yang inovatif agar tetap bersaing sehat. Ini lah yang menjadi pertimbangan birotiket.com sehingga membuka peluang bisnis online menjadi biro tiket pesawat secara online dengan modal sedikit tetapi hasil yang sangat luar biasa..

Tahukah anda bahwa Internet juga bisa digunakan untuk menjalankan bisnis jutaan rupiah dengan modal terjangkau? Ya, kini anda dapat memanfaatkan Internet agar dapat menghasilkan jutaan rupiah per bulannya.

KEUNTUNGAN APA SAJA YANG AKAN ANDA DAPATKAN ?

1. Proses reservasi / booking bisa dilakukan darimana saja dan kapan saja di seluruh wilayah Indonesia.
2. Data yang transparan langsung dari airline.
3. Proses reservasi langsung dilakukan dari sistem airline.
4. Anda bisa mencetak sendiri tiket anda dan penumpang anda bisa langsung terbang.
5. Pembayaran melalui transfer bank sehingga bisa lebih cepat dan akurat.
6. Anda bisa menjual kembali tiket tersebut kepada orang lain dengan harga pasar.

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Bergabung? silahkan klik disini

Artikel

<>
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

Warisan Terhebat Sang Nenek Kepada Cucunya




Pada suatu kala, hiduplah seorang nenek tua renta bersama seorang cucunya yang baru menginjak remaja. Kedua orangtua dari cucunya telah meninggal terlebih dahulu. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk yang hampir roboh. Mereka terpaksa tinggal di sana karena tidak memiliki uang. Mereka sangatlah miskin, tidak seperti tetangga-tetangga yang hidup berkecukupan.
Sang nenek pun sudah tua dan sakit-sakitan. Cucunya dengan penuh kasih sayang merawatnya. Meskipun ia bekerja keras banting tulang, ia hanya bisa mendapatkan sedikit uang yang tentunya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan apapun dilakukannya asalkan bisa menghasilkan uang. Hidupnya seperti tidak memiliki masa depan, gali lubang tutup lubang.
Setelah beberapa waktu lamanya, sang nenek merasa waktunya hampir tiba meninggalkan dunia ini. Sang nenek begitu sedih karena tidak punya apapun untuk cucunya kelak ketika dirinya sudah tiada. Akhirnya timbullah ide cemerlang. Dengan sedikit uang yang dikumpulkan dengan susah payah, dan dengan tubuh yang sakit-sakitan, ia berjalan sendiri ke sebuah toko tanpa sepengetahuan cucunya yang sedang bekerja.
Apa yang ingin dibeli sang nenek? Ternyata ia membeli sebuah boneka shaolin yang biasa dipakai untuk berlatih kungfu. Boneka tersebut ia taruh di gubuknya dan ditutup sedemikian rupa agar cucunya tidak melihatnya.
Akhirnya tibalah waktu ketika sakit sang nenek sudah tidak tertolong lagi. Ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Cucunya sangat berduka dan bersedih, karena neneknya adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Ia tidak memiliki teman seperti layaknya orang lain. Ia tidak akan bisa lagi bercerita dan berbagi dengan orang terdekatnya. Ia tidak punya siapa-siapa lagi, ia hidup sebatang kara.
Setelah beberapa hari berlalu, pemuda tersebut semakin sedih karena kesepian dan hidup sendirian. Ia terombang-ambing dalam hidup yang tidak pasti. Ketika rasa putus asa itu begitu besar, ia pernah berniat untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Sebelum ia sempat melaksanakan niatnya, ia teringat dengan wasiat yang diberikan nenek kepada dirinya sebelum neneknya wafat.
Dengan cepat, ia membuka surat wasiat tersebut. Beginilah isi surat wasiat yang ditulis oleh sang nenek ...
"Cucuku tersayang, pada saat kamu baca surat ini, berarti nenek sudah tidak ada lagi di dunia ini. Nenek juga sebenarnya berat meninggalkanmu dalam keadaan susah seperti ini, tapi ini sudah takdir.
Nenek tidak punya harta yang bisa diwariskan padamu. Nenek minta maaf karena tidak bisa memberikan yang terbaik sampai detik terakhir. Kamu jangan bersedih. Nenek tahu hidup kamu susah. Kita juga tidak seberuntung orang lain yang bisa hidup senang. Tapi, kamu jangan sampai putus asa karena hidup harus terus berlanjut.
Nenek hanya punya sebuah warisan untukmu. Warisan ini nenek beli untuk dihadiahkan kepada kamu dan ada di dalam gubuk dengan bungkusan yang besar."
[Pemuda tersebut menemukan dan membuka bungkusannya. Isinya adalah sebuah boneka shaolin. Tapi ia tidak tahu apa maksudnya. Ia melanjutkan surat wasiat tadi].
"Nenek memberi boneka shaolin ini agar kamu bisa menjadi seperti dirinya. Lihatlah boneka itu dan cobalah pukul sekuat-kuatnya."
[Pemuda itu mencoba memukulnya, dan boneka itu terombang-ambing. Tetapi sesaat kemudian, boneka itu berdiri tegak seperti semula. Alangkah terkejutnya pemuda itu. Berkali-kali ia memukul sekuat tenaga sampai lelah, tetapi boneka itu tetap tidak mau terjatuh].
"Lihatlah boneka itu, ia akan tetap berdiri tegar meskipun dipukul berkali-kali. Ia tidak pernah terjatuh. Ia tetap sabar menerima pukulan dan sebanyak itulah ia akan tetap berdiri, tanpa pernah menyerah.
Cucuku, hidup terkadang sulit. Nenek hanya mengharapkan kamu agar tidak menyerah. Ketika kamu jatuh dan putus asa, lihat kembali boneka ini. Kamu harus tetap berdiri. Ketika pukulan dan hantaman datang bertubi-tubi, sebanyak itulah kamu harus bertahan dan tetap bangkit. Saat kamu bertekad untuk tidak pernah menyerah, maka orang lain yang akan menyerah dan saat itulah kamu akan menang.
Hidup kamu sekarang memang susah. Tapi, jika kamu tidak pernah mau menyerah, hidup kamu pasti akan berubah. Saat itulah nenek akan bangga melihat kamu. Meskipun kamu seorang diri, jangan takut. Nenek akan selalu melihat dan menemanimu. Lakukan apa yang harus kamu lakukan dan jadilah seorang yang bermental seperti boneka shaolin itu. Meskipun kamu miskin, kamu harus memiliki mental seorang pemenang. Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu maksud nenek. Semoga wasiat dan warisan dari nenek bisa mengubah hidup kamu."
Setelah membaca surat wasiat nenek, pemuda itu menangis keras. Ia merasa begitu bodoh karena sebelumnya berniat untuk bunuh diri. Saat itulah, dirinya berubah. Surat wasiat itu benar-benar membuatnya menjadi seorang bermental baja. Dengan bekal itu, beberapa tahun kemudian, ia benar-benar menjadi orang yang sukses dan kaya. Warisan sang nenek yang terkesan tidak berharga ternyata mampu mengubah seorang pemuda putus asa menjadi seorang juara.
Pesan kepada pembaca:
Berapa banyak orang yang berani bangkit lagi setelah jatuh berkali-kali? Berapa banyak orang yang terus maju meskipun terus-menerus gagal? Berapa banyak orang yang terus berjuang meskipun sudah pernah kalah sebelumnya?
Tidak banyak orang yang seperti itu. Sangat banyak orang yang lebih memilih menyerah. Mereka tidak kuat ketika menyadari diri mereka terjatuh dan kalah. Bahkan tidak sedikit pula yang sudah menyerah kalah sebelum gendang perang ditabuh.
Adakah sesuatu hal yang seharusnya Anda lakukan, tetapi Anda memutuskan untuk berhenti? Coba ingat-ingat kembali hal berharga yang bisa Anda raih jika saja Anda tidak pernah menyerah. Sayang, hal berharga tersebut harus hilang karena Anda memutuskan untuk mengaku kalah. Hal yang bisa membuat Anda bahagia dan bangga jika tercapai ternyata harus terbang begitu saja. Apakah hal tersebut terlalu kecil sehingga Anda membuangnya dengan cara berhenti dan menyerah? Apakah Anda rela menukarkan impian Anda yang begitu berharga dengan sebuah pengakuan bahwa Anda sudah menyerah?
Ingat, jika Anda tidak pernah mau menyerah, maka cepat atau lambat lawan Anda yang akan menyerah. Jika lawan Anda sudah menyerah, maka Andalah yang menjadi pemenang. Berjanjilah untuk memberikan perlawanan yang terbaik dan terhebat.
Meskipun Anda akhirnya harus kalah, katakan pada lawan Anda bahwa ia pun tidak akan menang dengan mudah. Katakan padanya jika ia akhirnya menang, ia akan menang dengan perjuangan yang berdarah-darah dan mati-matian sampai sisa tenaga terakhir!

By. Suhardi




====================================================================

Promoted By :





Tukang Gembok dan Muridnya

Alkisah, seorang ahli kunci yang sangat termasyhur bermaksud mewariskan satu ilmu tertinggi dalam dunia perkuncian. Ahli kunci ini memiliki dua orang murid yang sama-sama pandai. Setelah beberapa tahun dididik, kedua orang murid itu sudah mahir dan menguasai semua teknik membuka segala jenis gembok. Hanya saja, ilmu tertinggi itu harus diwariskan hanya kepada satu orang yang benar-benar memenuhi kriteria. Oleh karena itu, untuk menentukan pewaris ilmunya, si ahli kunci tadi kemudian menggelar sebuah ujian yang diadakan pada waktu bersamaan.

Maka disiapkanlah dua buah peti yang tergembok rapat dan di dalamnya diisi dengan satu bungkusan berisi barang berharga. Kedua peti yang tergembok rapat itu lalu ditempatkan di dalam dua kamar yang bersebelahan. Berikutnya, murid pertama dan murid kedua disuruh masuk ke dalam kamar-kamar tadi secara bersamaan. "Tugas kalian adalah membuka gembok peti-peti di dalam kamar itu. Ayo, laksanakan...!" perintah si ahli kunci.

Tidak lama kemudian, murid pertama keluar dari kamar lebih dulu dan tampak berhasil menyelesasikan tugasnya. Sang ahli kunci langsung bertanya, "Bagus... tampaknya kau berhasil mengerjakan tugasmu. Apa isi peti itu?"

Murid pertama menjawab dengan percaya diri dan perasaan penuh kemenangan, "Di dalam peti itu terdapat sebuah bungkusan. Dan di dalam bungkusan itu ada sebuah permata yang berkilauan.. Indah sekali! Andaikan saya bisa memiliki permata itu..."

Mendengar jawaban itu yang penuh dengan rasa percaya diri itu, si ahli kunci tersenyum bijak. Ia segera menoleh ke arah murid kedua yang baru saja keluar dari kamar. Ia langsung menanyakan hal yang sama, "Bagus... tampaknya kau juga berhasil mengerjakan tugasmu. Apa isi peti itu?"

Mengetahui dirinya kalah cepat dalam membuka peti, murid kedua hanya menjawab dengan pelan. "Saya hanya membuka gembok peti itu, lalu keluar. Saya tidak membuka petinya, apalagi melihat isinya."

Mendengar jawaban itu, sang ahli kunci tersenyum puas. "Baiklah. Berdasarkan hasil ujian tadi, maka kau murid kedua... kaulah pemenangnya. Engkaulah yang akan mewarisi ilmu tertinggi dalam dunia perkuncian yang aku miliki," demikian si ahli kunci memutuskan.

Keputusan ahli kunci itu kontan membuat murid pertama kaget setengah mati. "Guru...!" teriak murid pertama yang kecewa.

"Bukankah saya yang berhasil membuka gembok lebih cepat? Mengapa bukan saya yang dipilih sebagai pewaris ilmu itu?" tanya si murid pertama dengan gusar.

Mendengar kegusaran murid pertamanya itu, si ahli kunci kembali tersenyum bijak. "Murid-muridku, dengar! Profesi kita adalah tukang kunci dan membuka gembok adalah tugas kita. Kita harus membantu orang membuka gembok yang kuncinya hilang atau rusak. Jika gembok sudah dibuka, tugas kita selesai. Kalau kita juga ingin melihat isinya, itu berarti melanggar kode etik profesi kita sebagai ahli kunci."

Selanjutnya, si ahli kunci meneruskan nasihatnya. "Tidak perduli apa pun pekerjaan kita, moral dan etika profesional harus dijunjung tinggi. Tanpa moraldan etika, maka seorang ahli kunci bisa dengan mudah beralih profesi menjadi seorang pencuri. Kalian mengerti?"

Mendengar hal itu, murid pertama mengangguk-anggukkan kepala. Dia menyadari di mana letak kesalahannya. Dia juga bersyukur telah mendapat satu lagi pelajaran moral yang sangat berharga sebelum terjun ke tengah-tengah masyarakat. Walaupun kecewa karena dirinya tidak bisa menjadi pewaris ilmu tertinggi yang dimiliki gurunya, murid pertama merasa tetap mendapatkan sebuah ilmu yang berharga sekali. Itulah ilmu mengenai moral dan etika profesional. Sejak saat itu, murid pertama berjanji pada diri sendiri, kelak dalam menjalankan profesinya, ia akan menjadi seorang ahli kunci professional yang menjunjung tinggi moralitas dan etika profesinya.

Netter yang Luar Biasa!
Memang tepat apa yang diilustrasikan dalam cerita tadi. Kita sebagai seorang profesional di bidang apa pun harus mampu melakukan tugas dan pekerjaan sesuai dengan lingkup profesionalisme kita. Jika tidak mengerti fungsi dan tanggung jawab sebagai profesional dengan benar, apalagi tidak memiliki etika dan moral, kita akan mudah terperosok kepada kesalahan-kesalahan profesi. Jika tidak tegas dalam mengontrol atau mengendalikan godaan pikiran negatif, kita pun akan mudah terjurumus dalam pelanggaran-pelanggaran yang dapat mendatangkan akibat fatal bagi karir dan masa depan kita.

Dalam perjalanan hidup saya sebagai motivator dan pengusaha, saya sering mendapati betapa banyak orang-orang pandai, cerdas, berbakat, bersemangat, dan berprestasi, tetapi akhirnya jatuh gara-gara mereka tidak memperhatikan masalah etika dan moral. Ini sungguh menyedihkan. Betapa karir dan keberhasilan yang dirintis sekian lama, akhirnya rontok oleh ketidakwaspadaan dan kurangnya pengendalian diri.

Sebaliknya, saya juga sering menemukan betapa orang-orang yang kemampuannya biasa saja, tetapi karena mampu menjalankan profesionalisme secara etis dan bermoral secara bersamaan, prestasi mereka akhirnya melejit dan meraih kesuksesan. Kalau kita dapat menjalankan etika dan moralitas secara sinergis dalam profesi, maka akan terbangun kepercayaan terhadap kinerja. Saya berani mengatakan, "kepercayaan" (trust) adalah mata uang yang berlaku di mana-mana, juga "daya ungkit" yang bisa menjadi pemacu karir maupun kesuksesan kita sebagai seorang profesional. Mari, miliki TRUST dengan cara menjalankan profesi masing-masing secara etis dan bermoral.

__________________
A.W



====================================================================

Promoted By :




Minggu, 08 Januari 2012

Seni Menikmati Hidup Bebas Stres



Suatu ketika, beberapa orang murid mengunjungi gurunya. Mereka adalah alumni yang sudah terjun ke masyarakat dengan profesinya masing-masing. Awalnya perbincangan mereka sangat menyenangkan. Namun tiba-tiba percakapan tersebut mengarah kepada keluhan mengenai pekerjaan dan hidup mereka yang penuh tekanan.
Lalu sang guru pergi ke dapur untuk mengambilkan kopi untuk para muridnya. Sang guru kemudian kembali dengan membawakan teko besar berisi kopi dan beberapa jenis cangkir yang berbeda-beda: ada cangkir kaca, porselen, plastik, kristal, ada yang terlihat biasa, ada yang terlihat murahan, ada yang mewah dan mahal, ada yang terlihat indah. Lalu sang guru menyuruh muridnya untuk mengambil salah satu cangkir tersebut dan menuangkan kopi ke dalamnya.
Ketika masing-masing murid sudah memegang cangkir berisi kopi, gurunya berkata, "Seperti yang kalian lihat, semua cangkir yang indah dan mahal diambil oleh kalian. Yang tertinggal hanya cangkir biasa dan murahan. Tidak masalah jika kalian mengambil yang terbaik. Tapi sayangnya itulah sumber dari stres dan masalah."
Gurunya melanjutkan, "Kalian harus tahu cangkir ini tidak akan mengubah rasa kopi ini menjadi lebih istimewa. Cangkir tetaplah cangkir, yang tidak akan mempengaruhi isi kopi di dalamnya. Hanya cangkirnya saja yang mahal dan bahkan seringkali menyembunyikan isi di dalamnya."
Para muridnya terdiam mendengarkan perkataan gurunya. "Sebenarnya yang kalian inginkan adalah kopi, bukan cangkirnya. Tapi yang kalian lakukan tadi adalah fokus dan mempermasalahkan cangkirnya. Kalian tanpa sadar melihat cangkirnya dan saling melihat cangkir orang lain," gurunya menjelaskan.
"Anggap hidup kalian adalah kopi. Lalu pekerjaan, bisnis, uang dan jabatan adalah cangkir yang hanyalah menampung hidup itu sendiri. Dan jenis cangkir yang kita miliki tidaklah menentukan dan mengubah kualitas kopi yang kita minum. Artinya pekerjaan, bisnis, uang dan jabatan tidaklah menentukan kualitas hidup kita. Terkadang dengan fokus pada cangkir, kalian tidak akan bisa menikmati kopi paling mahal dan nikmat sekali pun."
Gurunya mengakhiri dengan kutipan, "Ingatlah ini. Orang yang bahagia tidak selalu memiliki yang terbaik dalam hidupnya. Mereka hanya mampu menjadikan yang terbaik dari apa yang mereka miliki saat ini." Para murid senang dengan jawaban yang diberikan gurunya yang bijak tersebut.
Pesan kepada pembaca:
Seperti pada cerita di atas, dikatakan bahwa cangkir paling bagus dan mahal sekali pun tidak akan mengubah kualitas kopi menjadi lebih baik. Kopi tetaplah kopi dan cangkir tetaplah cangkir. Cangkir paling mahal belum tentu isi kopinya paling mahal dan begitu pula sebaliknya.
Lalu apa yang bisa kita petik dari cerita di atas? Apa pun yang kita miliki saat ini tidaklah sepenuhnya menentukan kualitas hidup kita. Artinya kita tetap bisa menjadikan hidup ini lebih baik dan bermakna terlepas dari apa yang kita miliki sekarang. Jika kita selalu dan terus mempermasalahkan apa yang kita miliki, kita tidak akan pernah memiliki waktu untuk menikmati hidup yang telah dianugerahkan kepada kita.

====================================================================

Promoted By :







Jumat, 06 Januari 2012

5 Kesalahan Dasar yang Merusak Karier



Bagaimana dengan karier yang kita jalani saat in? Sudah memuaskan, penuh tantangan, atau bahkan sering membuat kita tertekan? Jika yang terakhir yang kita hadapi, barangkali kita perlu memikirkan ulang - dan tentunya mengevaluasi secara keseluruhan - apa yang menyebabkan diri kita "terjebak" dalam situasi sedemikian rupa. Sebab, rasa tertekan, selain kadang disebabkan oleh beban kerja yang menumpuk, tapi banyak juga ternyata justru karena faktor diri yang sering kali "menumpuk" beban, seperti menunda pekerjaan, tak menuntaskan tugas yang diberikan, hingga terlalu banyak berfokus pada kesalahan dan bukannya mencari solusi.

Memang kepuasan dan kenyamanan bekerja justru acap kali kita sendiri yang menentukan. Sebab, pada dasarnya, jika diri sendiri sudah memiliki kemampuan untuk mengelola potensi, di mana pun dan kapan pun kita berada, pasti kita akan mampu menciptakan prestasi tersendiri. Sayangnya, ternyata, banyak orang - bahkan yang sudah berpengalaman sekali pun - sering melupakan hal-hal dasar dalam dunia kerja. Bahkan, kemudian "terjebak" dalam "tanjakan" yang membuatnya tak bisa naik ke puncak. Hal ini merupakan hasil riset yang dimuat di dalam Harvard Business Review beberapa waktu silam.

Dalam laporan tersebut, Boris Groysberg dan Robin Abrahams dari Harvard Business School telah melakukan wawancara terhadap lebih dari 400 konsultan riset dan 500 eksekutif pimpinan divisi Sumber Daya Manusia (SDM) dari 15 perusahaan multinasional ternama. Dan ternyata, mereka menemukan LIMA kesalahan dasar yang masih sering - dan bahkan terus - dilakukan oleh para pekerja. Berikut adalah kesalahan-kesalahan dasar yang perlu kita sendiri hindari agar karier kita tidak berhenti di tengah jalan.
 

1. Kurang melakukan riset

Banyak orang pada saat akan pindah ke kantor baru, tidak melakukan riset tentang perusahaan di mana dia akan bekerja. Karena itu, meski kenaikan pangkat atau tingginya gaji telah didapat, tetapi faktor kenyamanan bekerja dan lingkungan kerja yang mendukung prestasi justru sangat minim. Akibatnya, kinerja pun malah berhenti dan tak bisa berkembang lagi.

Dalam hal ini, Groysberg yang juga asisten profesor di Harvard, menganjurkan kalau ingin pindah, lakukan seperti kita sedang berinvestasi. "Bukankah kala ingin berinvestasi ke pasar saham, kita perlu melakukan uji kelayakan terhadap perusahaan yang kita percayai?" sebutnya.

2. Meninggalkan pekerjaan lama hanya karena alasan gaji

Pindah pekerjaan karena alasan kenaikan gaji adalah hal klasik yang banyak orang lakukan. Sayangnya, sering kali meski pendapatan naik, tak disertai dengan peningkatan kesuksesan seperti diharapkan. Bahkan, kadang kala, ada nilai-nilai penting yang justru hilang saat berpindah kerja, misalnya pertemanan dengan relasi lama. Karena itu, pikirkan ulang jika hanya masalah gaji yang jadi alasan kepindahan.

3. Memilih hengkang "dari" daripada menuju "ke"

Kadang, saking putus asanya, orang tak berpikir ulang dengan pekerjaan lama. Akibat tekanan yang dirasakan, maka seseorang langsung memilih hengkang dan asal memilih pekerjaan lain. Nah, asal pindah dan asal menuju ke tempat baru ini kadang membuat orang sering kali kurang rasional dalam usahanya meningkatkan karier. Dalam hal ini, Abrahams yang juga seorang peneliti psikologi, menyarankan agar kita benar-benar mencari alasan yang tepat sebelum mencoba pindah kerja, "Benarkah sudah tidak ada kesempatan di kantor lama atau benarkah saya memang harus pergi?"

4. Percaya diri yang berlebihan

Meskipun kita merasa memiliki kelebihan, jangan terjebak dalam kesombongan. Sebab, baik saat tetap di perusahaan lama atau pun mencari tempat baru, jika percaya diri digunakan dengan berlebihan, bisa jadi akan membuat kita terperosok sendiri. Ingat, bahwa kompetisi sangat sengit. Bisa jadi, apa yang kita kuasai hari ini, tanpa belajar dan belajar lagi, akan jadi "usang" dengan munculnya orang lain yang lebih maju dalam penguasaan materi atau teknologi yang lebih baru lagi.

5.Berpikir jangka pendek

Banyak orang yang berpikiran pendek dalam hubungannya pada pekerjaan yang dijalani. Ada masalah sedikit mengeluh, ada kendala tertentu, langsung lari. Begitu juga saat mencoba pindah ke pekerjaan atau tempat yang baru, ada banyak orang yang kemudian tak berpikir panjang dengan langsung memutus hubungan di pekerjaan lama. Padahal, entah kapan, mantan bos, anak buah, atau pemilik perusahaan lama suatu kali bisa jadi klien, vendor, atau apa pun yang kemudian membuat seseorang berhubungan kembali dengan kantor atau orang lama yang dikenalnya. Jika tak hati-hati, pikiran pendek dan sempit yang dilakukan, suatu saat akan membuat seseorang mentok dalam berkarier.

====================================================================

Promoted By :






Kamis, 05 Januari 2012

Mengapa Orang Kaya Makin Kaya dan Orang Miskin Makin Miskin?




Pola pikir orang kaya dapat dipelajari dan diadopsi siapa pun, karenanya peluang menjadi kaya juga dapat diperoleh siapa pun juga.
1.Orang kaya percaya bahwa kehidupan mereka sangat bergantung pada seberapa besar dan serius usaha mereka.

Pola kerja orang kaya lebih agresif mengambil langkah-langkah progresif. Usahakan untuk selalu melangkah, walaupun langkah kecil tetapi jika Anda kerjakan secara konsisten itu akan memudahkan pekerjaan dan lebih memastikan keberhasilan Anda mencapai tujuan.
Sebaliknya, orang miskin hanya menerima apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, tanpa ada usaha maksimal untuk memperbaiki keadaan mereka. Kalaupun terpaksa bekerja keras itu hanyalah untuk memenuhi tagihan atau kebutuhan sehari-hari.

2.Orang kaya bersedia menanggung risiko, termasuk risiko menghadapi kegagalan.

Mereka tidak mudah terlena jika meraih kesuksesan, dan mereka juga selalu dapat melihat sisi positif dari setiap kegagalan. Mereka mempunyai motivasi, optimisme dan keberanian yang luar biasa dalam menciptakan dan membesarkan usaha. Orang kaya tidak pernah takut gagal.
Sedangkan orang miskin hanya menjadi pengamat atas perkembangan yang sedang terjadi, dan bukan menjadi bagian dari perubahan tersebut. Itu karena mereka tidak berani menanggung risiko dan cenderung mencari aman. Alhasil, mereka selalu kehilangan peluang potensial.

3.Orang kaya selalu berpikir dan bertindak positif, dalam situasi ekonomi yang baik maupun situasi ekonomi sedang krisis
.
Orang kaya memiliki keyakinan tinggi bahwa mereka pasti berhasil menciptakan sumber penghasilan yang besar suatu hari nanti. Keyakinan itulah yang memungkinkan mereka selalu melihat peluang di mana-mana dan memotivasi mereka untuk aktif melakukan tindakan yang semakin menjadikan hidup mereka lebih makmur.
Sedangkan sistem keyakinan orang miskin sama sekali bertolak belakang, yaitu selalu berpikir negatif dan pesimis. Sistem kepercayaan orang miskin (yang negatif) itu juga terus tumbuh, sehingga mereka semakin enggan berusaha. Hasilnya mereka menjadi semakin miskin.

4.Orang kaya mampu bertindak cepat dalam mengambil keputusan, dan tidak mudah berubah pikiran.

Orang kaya lebih berkomitmen kepada visi, tujuan dan keputusan mereka. Mereka berusaha selalu sabar dan tabah menghadapi segala tantangan dalam berbisnis dan kehidupan pribadi. Mereka sadar bahwa perbedaan orang sukses dan gagal terletak pada ketabahan atau ketangguhan karakter.
Kebalikannya, orang miskin sulit sekali menetapkan keputusan, tetapi sangat cepat berubah pikiran. Sikap demikian dikarenakan mereka selalu pesimis dan was-was keputusannya keliru.

5.Orang kaya memiliki kemampuan menahan keinginan untuk bersenang-senang, sebelum tujuan mereka tercapai.

Orang kaya menunda kenikmatan hidup sampai kondisi mereka benar-benar mampu (secara keuangan). Mereka cenderung bergaya hidup sederhana dan tidak boros. Sesekali mereka memang membutuhkan kesenangan, tetapi itu berbiaya jauh lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan mereka.
Orang miskin tidak mampu mengerem kesenangan karena mereka tidak mampu membedakan mana keinginan dan kebutuhan. Mereka tidak mempunyai cukup tabungan dan hidup sibuk 'gali lubang tutup lubang', karena uang mereka habis untuk mengejar kesenangan. Keadaan seperti itu semakin menyulitkan kehidupan mereka.
 
Lima perbedaan antara orang kaya dan orang miskin di atas menunjukkan bahwa dunia nyata kita hanyalah satu cerminan dari dunia batin. Berhati-hatilah dengan pola pikir, karena akan menjadi tindakan. Sedangkan tindakan akan menentukan nasib Anda. Bila Anda ingin kaya kuncinya adalah kemampuan mengendalikan pikiran menjadi lebih positif. Be positive, pasti kaya!




====================================================================

Promoted By :




Minggu, 01 Januari 2012

Kisah Akong dan Ama ( LOVE STORY )



Seorang kakek menyuapi istrinya (sang nenek) yang sedang sakit. Terlihat sangat menyentuh dan mungkin inilah salah satu saat paling romantis dalam hidup sepasang manusia.

Apalah arti kata "I love you" (aku mencintaimu) bila hanya sebatas di mulut tanpa tindakan nyata (saling menjaga, mengasihi, dan berjanji setia untuk seumur hidup hanya dengan seorang pria/wanita sebagai pasangan)?

Si kakek ini, seumur hidupnya tidak pernah mengucapkan "saya cinta kamu." Ketika ia melamar calon istrinya (si nenek), hanya tiga kata yang diucapkan: "Percayalah kepada saya."

Ketika si istri melahirkan anak perempuan pertama, laki-laki itu mengatakan: " Maaf ya, sudah menyusahkan kamu."

Ketika anak perempuannya menikah, si istri merasa kehilangan dan si suami ini hanya merangkulnya sambil mengatakan: "Masih ada saya."

Ketika si nenek itu sedang sakit parah, ia mengatakan kepadanya: "Saya akan selalu ada di sampingmu."

Ketika si nenek sakitnya makin parah dan akan meninggal, si kakek hanya mengatakan kepada istrinya: "Kamu tunggu saya ya."

Seumur hidup, ia tidak pernah sekalipun mengucapkan "saya cinta kamu", tetapi "CINTA"nya tidak pernah meninggalkan dia. Cintanya diwujudkan dalam hidup keseharian mereka. Seumur hidup, tindakan dan perbuatannya selalu penuh dengan CINTA.

Walaupun sulit menemukan pasangan seperti cerita di atas ini, tapi pasti ada pasangan-pasangan yang demikian kuat rasa cintanya di dunia ini. Semoga demikian pula untuk semua pasangan yang sudah memutuskan untuk menikah.

Jadilah Akong & Ama paling romantis, versi Anda masing-masing :)
Luar Biasa!!


====================================================================

Promoted By :





Sabtu, 31 Desember 2011

Empat Batu Bata



Saat liburan panjang sekolah, seorang mahasiswa pulang ke kampung halamannya. Di sana, tengah dimulai pembangunan tempat ibadah, dan tentunya, sangat diperlukan tenaga sukarela untuk membantu.

Si pemuda itu pun dengan senang hati ikut ambil bagian kegiatan tersebut. Dengan bersemangat, ia mulai belajar mengaduk semen, meletakkan bata, melapisi dengan semen, kemudian menaruh bata, menyemen lagi, merapikan, demikian seterusnya. Dengan semangat menggebu, akhirnya, setengah tembok berhasil diselesaikan. Lalu dengan perasaan puas, walaupun sedikit lelah, dia berdiri mengagumi tembok hasil kerja pertamanya.

Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang janggal. Ada empat batu bata pertama yang tersusun tidak rapi! Keempat batu bata itu tampak lebih menonjol dan miring di antara batu bata lainnya yang tersusun rapi. Timbul perasaan kecewa dan tidak puas atas hasil kerjanya. Bergegas, ditemuinya sang pemuka agama untuk mendiskusikan masalah yang mengganggu pikirannya.

"Lihat Pak, batu bata pertama yang saya pasang kurang rapi sehingga mengganggu keindahan seluruh tembok di atasnya. Tolong Pak, beri kesempatan kepada saya untuk memperbaikinya dengan merobohkan dan memasang ulang batu-batu bata itu. Saya berjanji pasti akan mengerjakan sebaik-baiknya sampai selesai."

Namun, usulannya itu ditolak. "Tidak ada yang perlu diperbaiki, Nak. Tembok sudah naik setengah, tidak perlu dirobohkan hanya gara-gara empat bata yang kurang rapi. Teruskan saja pekerjaanmu hingga selesai," ujar si pemuka agama.

Akhirnya, meski merasa kecewa dan tidak puas, si pemuda mampu menyelesaikan keseluruhan tembok tersebut. Namun, setiap kali melewati batu bata yang kurang sempurna itu, selalu timbul rasa tidak puas dan bersalah yang mengusiknya. Ia secepatnya berlalu, pura-pura tidak melihat, bahkan sengaja berjalan memutar untuk menghindari pemandangan bata miring tersebut. Sebab, setiap kali melewatinya, ia merasa diingatkan pada kesalahan yang telah diperbuatnya. Ia menganggap, kesalahan itu akan dilihat banyak orang yang lewat di sana.

Sampai suatu hari, ada kunjungan seorang pemimpin dari ibukota. Si anak muda mendapat tugas mendampingi mereka berkeliling di tempat itu. Tiba-tiba sang pemimpin menghentikan langkah menatap tembok di sana dan berkata, "Wah, dinding ini indah sekali."

Dengan terkejut, si pemuda lantas bertanya, "Apanya yang indah, Pak? Apakah Bapak tidak melihat empat batu bata yang miring dan mengganggu kesempurnaan seluruh tembok ini?"

"Oh ya, saya melihat empat batu bata itu, tetapi saya juga melihat ratusan batu bata lainnya yang bagus! Karena ketidaksempurnaan seperti katamu itu anak muda, membuat dinding ini justru tampak indah untuk dinikmati, bukan sekadar dinding kosong yang rata."

Sejenak si anak muda terpana. Untuk pertama kalinya, sejak tembok itu berdiri, pemuda itu melihat tembok yang sama, dengan kesadaran yang berbeda. Sebelumnya, matanya selalu memperhatikan kesalahan yang telah dilakukan hingga ia selalu ingin menghancurkan seluruh dinding. Dia tidak menyadari tumpukan batu bata yang bagus dan sempurna yang jauh lebih banyak jumlahnya. Kebaikan yang banyak dari hasil kerjanya itu, seolah tertutupi kesalahan kecil yang ia lakukan sebelumnya.

Netter yang luar biasa,

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sebab, kita semua hidup dengan aneka keterbatasan. Setiap manusia, Anda dan saya, tentu memiliki "bata" yang jelek dan "bata" yang bagus di kehidupan. Ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah, tak ada gading yang tak retak. Dalam sebuah keindahan, pasti terdapat kekurangsempurnaan.

Kadang, tanpa sadar kita melakukan kesalahan, tetapi dari sana kita justru bisa belajar tentang sebuah kebenaran. Tak jarang, kita juga mengalami kegagalan, agar bisa merasakan nikmatnya sebuah keberhasilan. Karena itu, tak perlu malu dengan kesalahan di masa lalu. Jangan pula patah semangat saat kegagalan mendera. Sebab, di balik semua itu, kita bisa belajar sesuatu.

Kesadaran akan keterbatasan sebaiknya dapat menjadi pemacu semangat kita untuk terus melakukan perbaikan dalam segenap aspek kehidupan. Bukan saatnya lagi kita meratapi kekurangan, tapi justru dengan keterbatasan itu, kita bisa terus belajar untuk memaksimalkan kelebihan yang sudah ada guna membangun masa depan.

Jadi, jangan hancurkan dinding yang bagus karena bata yang tak sempurna. Karena, di balik setiap proses kehidupan, pasti ada proses pembelajaran. Tujuannya satu: untuk menguatkan dan menyempurnakan, sehingga hidup lebih bermakna.

Salam sukses, luar biasa!!

====================================================================

Promoted By :




Sikap Tanggung Jawab



Dikisahkan, sebuah keluarga mempunyai anak semata wayang. Ayah dan ibu sibuk bekerja dan cenderung memanjakan si anak dengan berbagai fasilitas. Hal tersebut membuat si anak tumbuh menjadi anak yang manja, malas, dan pandai berdalih untuk menghindari segala macam tanggung jawab.

Setiap kali si ibu menyuruh membersihkan kamar atau sepatunya sendiri, ia dengan segera menjawab, "Aaaah Ibu. Kan ada si bibi yang bisa mengerjakan semua itu. Lagian, untuk apa dibersihkan, toh nanti kotor lagi." Demikian pula jika diminta untuk membantu membersihkan rumah atau tugas lain saat si pembantu pulang, anak itu selalu berdalih dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Ayah dan ibu sangat kecewa dan sedih melihat kelakuan anak tunggal mereka. Walaupun tahu bahwa seringnya memanjakan anaklah yang menjadi penyebab sang anak berbuat demikian. Mereka pun kemudian berpikir keras, bagaimana cara merubah sikap si anak? Mereka pun berniat memberi pelajaran kepada anak tersebut.

Suatu hari, atas kesepakatan bersama, uang saku yang rutin diterima setiap hari, pagi itu tidak diberikan. Si anak pun segera protes dengan kata-kata kasar, "Mengapa Papa tidak memberiku uang saku? Mau aku mati kelaparan di sekolah ya?"
Sambil tersenyum si ayah menjawab, "Untuk apa uang saku, toh nanti habis lagi?"

Demikian pula saat sarapan pagi, dia duduk di meja makan tetapi tidak ada makanan yang tersedia. Anak itu pun kembali berteriak protes, "Ma, lapar nih. Mana makanannya? Aku buru-buru mau ke sekolah."
"Untuk apa makan? Toh nanti lapar lagi?" jawab si ibu tenang.

Sambil kebingungan, si anak berangkat ke sekolah tanpa bekal uang dan perut kosong. Seharian di sekolah, dia merasa tersiksa, tidak bisa berkonsentrasi karena lapar dan jengkel. Dia merasa kalau orangtuanya sekarang sudah tidak lagi menyayanginya.

Pada malam hari, sambil menyiapkan makan malam, sang ibu berkata, "Anakku. Saat akan makan, kita harus menyiapkan makanan di dapur. Setelah itu, ada tanggung jawab untuk membersihkan perlengkapan kotor. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya dan akan terus begitu selama kita harus makan untuk kelangsungan hidup. Sekarang makan, besok juga makan lagi. Hari ini mandi, nanti kotor, dan harus juga mandi lagi. Hidup adalah rangkaian tanggung jawab, setiap hari harus mengulangi hal-hal baik. Jangan berdalih, tidak mau melakukan ini itu karena dorongan kemalasan kamu. Ibu harap kamu mengerti."
Si anak menganggukkan kepala, "Ya Ayah-Ibu, saya mulai mengerti. Saya juga berjanji untuk tidak akan mengulangi lagi."



Sikap Tanggung Jawab

Dalam kehidupan, kita selalu memikul tanggung jawab. Sedari kecil, remaja, dewasa, hingga tua, kita akan terus menerus melakukan aktivitas-aktivitas kecil maupun besar sebagai bentuk kewajiban yang kita emban. Dan, jika kita mengabaikannya, dampak negatif akan kita rasakan.
Karena itu, hanya dengan selalu melakukan kebiasaan positif, dengan kesadaran penuh dan dilakukan secara terus menerus, maka sikap tanggung jawab akan menjadi ciri khas kita yang dapat membawa diri pada kehidupan yang lebih baik dan lebih bermutu.

Salam sukses, luar biasa!!!


====================================================================

Promoted By :





Kosongkan Cangkir Tehmu

Di sebuah kerajaan, karena kesibukan sang raja memerintah, permaisurilah yang menemani dan sangat memanjakan sang pangeran. Pangeran tumbuh menjadi pemuda yang sombong, egois, kurang sopan santun, dan malas belajar. Raja sangat sedih memikirkan sikap pangeran muda. Bagaimana nasib negeri ini nantinya?
Setelah berbincang dengan permaisuri, raja pun bertitah:"Anakku, tahta kerajaan akan ayah serahkan kepadamu, tetapi dengan syarat engkau harus tinggal dan belajar selama 1 tahun di atas bukit bersama seorang guru yang telah ayah pilih. Bila engkau gagal, maka tahta kerajaan akan ayah serahkan kepada orang lain."
Pangeran serta merta menyanggupi persyaratan itu. Dalam hati ia berkata, "Apalah artinya penderitaan 1 tahun dibandingkan kelak sebagai raja, aku bisa hidup mewah dan bersenang-senang seumur hidupku!"

Setibanya di kediaman sang guru, tingkah laku pangeran tetap sombong, menyebalkan, dan tidak sopan. Dia merasa sebagai pangeran, semua orang harus menuruti kemauannya. Setiap kali gurunya bertanya, pangeran menjawab semaunya. Setiap kali gurunya menerangkan pelajaran, pangeran tidak mendengarkan-merasa sudah tahu semua.
Tidak terasa haripun berganti minggu. Sang guru berpikir keras tentang cara untuk memberi pelajaran kepada pangeran yang sombong dan sok pintar itu.
Suatu hari, sang guru menyeduh teh dan menuangkan ke cangkir pangeran. Air teh dituang terus dan terus hingga tumpah ke mana-mana sehingga mengenai tangan sang pangeran. Pangeran berteriak marah, "Hai, bodoh sekali! Menuang teh saja tidak becus! Cangkir sudah penuh mengapa masih dituang terus? Air mendidih, lagi!"
Dengan tersenyum sang guru berkata tegas, "Beruntung hanya tangan pengeran yang terkena percikan teh panas. Sebagai seorang pangeran, calon raja dan suri tauladan bagi rakyatnya, tidak sepantasnya berkata tidak sopan seperti itu, lebih-lebih kepada gurunya sehingga sepantasnya mulut pangeranlah yang harus dituang teh panas ini.
Guru sengaja menuang terus cangkir yang telah terisi penuh karena ingin mengajarkan kepada Yang Mulia bahwa cangkir teh diumpamakan sama seperti otak manusia. Bila telah terisi penuh maka tidak mungkin diisi lagi. Karenanya kosongkan dulu cangkirmu, kosongkan pikiranmu, agar bisa diisi hal-hal baru yang positif. Hanya bekal ini yang ingin guru sampaikan. Bila pangeran tidak berkenan, silakan pergi dari sini."
Mendengar perkataan sang gurunya yang tegas, pangeran seketika tertunduk malu. Peristiwa itu menyadarkan pangeran untuk mengubah sikapnya dan menerima pelajaran dari gurunya. Tentu saja perubahan sikap pengeran ini membuat raja sangat bergembira.
Teman-teman yang berbahagia,
Karena status, pendidikan, atau kedudukan, seringkali seseorang merasa lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih pintar dari orang lain. Sikap seperti ini membuat pikiran tertutup (atau mental block), sulit menerima hal-hal baru yang diberikan oleh orang lain.
Sikap seperti ini jelas merugikan dirinya sendiri. Jika kita bisa bersikap open mind / membuka pikiran dalam menerima hal-hal baru dan mau menerima kritikan yang diberikan oleh orang lain, maka kita akan dapat memetik banyak keuntungan; seperti bertambahnya wawasan, ide, pengetahuan, pengertian, wisdom, dan lain sebagainya. Pasti semua itu bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan dan menciptakan kesuksesan.
Salam sukses, luar biasa!


====================================================================

Promoted By :




Menghargai Orang Lain

Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, "Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata "tolong", setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan "maaf", saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.

Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan "terima kasih" kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Amin."

Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.

Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.



Pembaca Yang Budiman
,

Tiga kata "terimakasih, maaf, dan tolong" adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.

Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.

Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkankata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan.Dengan mampu  menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.

====================================================================

Promoted By :





Jumat, 30 Desember 2011

Nasihat Kaya dari 5 Orang Terkaya



Seandainya uang di seluruh dunia dikumpulkan, lalu dibagikan secara merata kepada semua orang, 2 hingga 5 tahun mendatang uang itu akan kembali pada mereka yang memiliki pola pikir kaya.


Orang kaya memang memiliki pola pikir (mind set) yang berbeda. Lalu apa nasihat orang-orang kaya yang bisa diambil dan diterapkan? Berikut 5 nasihat kaya dari orang-orang terkaya.

1.Donald Trump
Pengusaha real estate terkemuka Amerika ini punya nasihat menarik. "Pengalaman mengajarkan saya beberapa hal. Pertama, adalah untuk memiliki keberanian, apa pun kondisi yang terlihat dari angka di atas kertas. Kedua, pada umumnya lebih baik kita tetap melekat pada apa yang kita tahu. Dan ketiga, kadang investasi yang paling baik adalah dengan tidak berinvestasi."

2.Will King
Sebagai pengusaha yang memulai dari bawah, Will King, pengusaha alat cukur "King of Shaves", punya nasihat sederhana. "Ketika kamu berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan besar yang dengan mudah menggelontorkan uang, kamu harus benar-benar bisa tampil beda. Kamu harus bisa ber-zig, ketika mereka ber-zag."

3.Thomas J. Watson
Mantan CEO IBM yang berjuluk salesman terhebat di dunia itu memaparkan, "Jangan berteman dengan orang yang hanya membuat kita nyaman. Tapi carilah teman yang bisa mendorong kita untuk berani mencapai jenjang lebih tinggi."

4.Jeff Bezos
Apa kata Jeff Bezos, pendiri Amazon.com agar seseorang bisa kaya? "Jika kamu berhasil membangun pengalaman yang mengesankan bagi pelanggan, mereka akan menceritakan hal itu pada pelanggan lainnya. Kekuatan informasi dari mulut ke mulut sangat luar biasa!"

5.David Ogilvy
Pengusaha periklanan paling sukses di dunia ini punya rahasia sukses. "Dalam dunia bisnis yang modern, menjadi seorang yang kreatif dan mampu menghasilkan ide yang orisinal tak akan berguna, kecuali kita juga bisa menjualnya!"

  A.W

====================================================================

Promoted By :



Kamis, 29 Desember 2011

3 Tipe Orang



Seorang guru memperlihatkan tiga mainan berbentuk orang kepada murid-muridnya dan meminta mereka mencari perbedaan dari ketiganya. Sekilas ketiga mainan itu tampak sama. Bentuk, ukuran, dan bahan materinya mirip. Namun setelah diamat-amati, akhirnya murid-murid bisa menemukan perbedaannya. Pada ketiga mainan itu terdapat lubang-lubang. Namun, jumlah dan letaknya berbeda-beda.
Di mainan pertama, ada lubang pada kedua telinganya. Di mainan kedua, ada lubang di telinga dan mulutnya. Di mainan ketiga, hanya ada satu lubang di satu telinganya.
Lalu, murid memasukkan satu jarum ke dalam lubang telinga mainan pertama. Jarum itu keluar dari telinga satunya lagi. Pada mainan kedua, ketika jarum dimasukkan ke satu telinga, jarum itu malah keluar dari mulutnya. Dan di mainan ketiga, ketika jarum dimasukkan, malah sama sekali tidak bisa keluar.
Sang guru pun menjelaskan. Mainan pertama mencerminkan orang-orang di sekitar kita yang kelihatannya mendengarkan cerita kita dengan sungguh-sungguh dan peduli pada kita. Tapi, mereka sebenarnya hanya berpura-pura saja. Setelah mendengarkan, seperti halnya jarum yang keluar dari telinga satunya, cerita-cerita kita yang mereka dengar akan dilupakan begitu saja.
Mainan kedua adalah cerminan orang yang mendengarkan semua keluh-kesah kita dan tampaknya peduli pada kita. Tapi seperti halnya mainan kedua tadi, jarum itu keluar dari mulutnya. Orang-orang seperti ini akan menggunakan cerita keluh-kesah kita atau apa pun yang kita ceritakan ke mereka untuk melawan kita dengan menceritakannya ke orang lain. Atau, mereka akan membocorkan cerita rahasia kita demi keuntungan mereka sendiri.
Mainan ketiga, di mana jarum tadi sama sekali tidak keluar ke mana-mana. Inilah gambaran orang-orang yang akan menjaga kepercayaan yang kita berikan pada mereka. Mereka inilah yang sejatinya bisa kita andalkan sebagai orang tepercaya.
 
Memiliki seseorang yang selalu ada di kala kita sedang terpuruk ataupun saat bersukacita, sungguh baik dan positf. Tapi ada baiknya jika kita sedikit waspada. Tentunya kita tidak mau perkataan kita berdampak seperti boomerang yang suatu saat akan berbalik menyerang kita.
Sebaliknya, jika kita suatu saat menjadi si pendengar bagi orang lain, siapa pun orang itu, hendaknya kita tidak menjadi mainan pertama atau kedua. Kita tentu tidak bisa mengharapkan orang lain menjadi mainan ketiga, jika kita terlebih dulu tidak menjadi mainan ketiga. Seperti kata pepatah, "Do to others as you would have them do to you." Kalaupun kita tidak bisa menjadi mainan ketiga, sebaiknya kita berkata jujur supaya kita tidak menyakiti orang lain dan diri sendiri di masa mendatang.

====================================================================

Promoted By :



Cara Simpel Mengevaluasi Diri





Pernahkah kita mengevaluasi hasil kerja kita? Apakah hasilnya sesuai, melebihi, atau di bawah harapan?
Sayangnya, sedikit dari kita yang mau meluangkan waktu untuk mengevaluasinya. Mungkin kisah bocah berikut bisa membuat kita berubah.
Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko obat. Ia mengambil peti minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka. Si pemilik toko mengamati-amati tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.
Bocah: Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?
Ibu (di ujung telepon sebelah sana): Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya.
Bocah: Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu.
Ibu: Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu.
Bocah (dengan sedikit memaksa): Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di semua rumah di Palm Beach, Florida.
Ibu: Tidak, terima kasih.
Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.
Pemilik Toko: Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan.
Bocah: Tidak. Makasih.
Pemilik Toko: Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan.
Bocah: Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja untuk Ibu tadi!

====================================================================

Promoted By :



Selasa, 27 Desember 2011

Pesan Ibu

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue om, masih hangat dan enak rasanya", "Nggak dik, saya lapar mau makan nasi saja "kata si pemuda menolak. Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan  kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "tidak dik, saya sudah kenyang". Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa buat oleh-oleh pulang om". Dompet yang belum sempat dimasukan ke kantong pun dibukanya kembali, dikeluarkan 2 lembar ribuan dan mengangsurkan ke anak penjual kue "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya".

Dengan senang hati diterimanya uang itu dan bergegas dia ke luar restoran memberikannya kepada pengemis di depan restoran. Merasa heran dan sedikit tersinggung si pemuda menegurnya, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang, kenapa setelah uang ada di tanganmu malah kamu berikan ke orang lain?"

"Om jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh Ibu saya sendiri dan Ibu pasti akan sedih dan marah, jika saya menerima uang dari om bukan hasil menjual kue. Tadi om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu". Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh". Si anak pun segera menghitung dengan gembira.

Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih dik atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu". Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih om. Ibu pasti akan senang sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami".

Pembaca yang budiman,

Dari hasil didikan seorang ibu yang luar biasa, lahirlah anak yang hebat! Walaupun mereka miskin harta tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain tetapi dengan bekerja keras, membanting tulang. Karena sesungguhnya, KERJA ADALAH KEHORMATAN bagi setiap manusia!

====================================================================

Promoted By :




Ayahku Tukang Batu

Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.

Putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai tukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayahnya bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya membuatnya telah melukai hatinya.

Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu," keluhnya dalam hati.

Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.

Setelah sampai di taman, dengan raut penuh senyuman, si ayah berkata, "Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini dimana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini."

Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu."

Setelah mendengar semua penuturan sang ayah, si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri Yah. Putri salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalah seorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.

Pembaca yang budiman,

Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar, materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan.

Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan was was, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.

Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia.

Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hari ini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita hari ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!
====================================================================

Promoted By :




Salam Sukses Luar Biasa!!!!

Money and You







Ini adalah kata-kata yang sering di hubungkan dengan uang, at least saya sering sekali mendengarnya dari orang-orang yang saya latih.
Uang itu ....powerful, kotor, membebaskan, sexy, korupsi, memampukan, memberi, memfokuskan, merenggut, menggiurkan, menggoda, mencobai, tidak berarti, tidak bisa dihindari, menjijikkan, mantap, uang nomor dua setelah nafas, dan seterusnya.
Uang katanya tabu... tapi banyak pula yang tidak mengakui bahwa uang itu tabu, bagaimana menurut Anda?

Mari kita test jawaban Anda terhadap pertanyaan ini:

* Apakah seorang wanita/pria kaya 'tampak' lebih menarik?
* Bila melihat pria tua dan jelek menikahi seorang wanita muda yang cantik di lengannya, apa pendapat Anda?
* Apa ketakutan Anda seputar pengeluaran, investasi dan tabungan?
* Orangtua mengatakan mereka akan memberikan semua harta kepada saudara Anda, apa pendapat Anda?
* Berapa uang yang Anda butuhkan jika ingin mengubah gaya hidup Anda?
* Bagaimana sikap Anda berubah ketika bertemu dengan orang yang jauh lebih kaya dari Anda?
* Dalam kasus apa uang adalah "kuasa" dalam hidup Anda?
* Kapan uang memberi Anda respek?
* Siapa orang yang lebih menghargai Anda jika Anda kaya raya?
* Karyawan Anda meminta kenaikan gaji, apa yang muncul dalam pikiran Anda?
* Karyawan Anda mengatakan UMR naik 200% menurut aturan pemerintah, bagaimana Anda akan menanggapi?
* Seberapa besar uang yang akan Anda keluarkan agar terlihat sepuluh tahun lebih muda?

Aha, saya melakukan riset sederhana. Hasilnya, begini:
36% mengatakan pertanyaan yang sulit, dan tidak berani menjawab,
21% mengatakan yang muncul banyak negatif,
43% munculnya negatif tapi saya berusaha mengganti dengan kata-kata positif.

Nah, apa keyakinan Anda tentang 'uang'?

Sebuah kata-kata bijak dari sebuah gulungan kitab Sirakh 180 tahun Sebelum Masehi mengatakan:
"Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya."
"Tangan yang lamban membuat miskin,tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya" - Raja Sulaiman
Sangat cocok dengan kasus-kasus yang terjadi dengan 80% usaha kecil tutup di 5 tahun pertama. Keith J.Cunningham mengatakan penyebab utamanya Lack of Critical Thinking & Critical Knowledge.

Kesimpulan saya dan juga pengalaman sebagai pengusaha, pelatih bisnis, dan life coach, uang terjadi dengan rumus:

Knowledge + right belief + right action = money.
Knowledge + wrong belief = bad habit!
Lack of knowledge + right belief = The Search of excellence.
Semoga Anda tambah kaya, tambah sukses dan tambah makmur ...!

Salam FUNtastic!
_______________
Tom MC Ifle


====================================================================

Promoted By :





Sudah di Puncak Sukses? What Next?





Saat berada di puncak, pilihannya adalah turun. Benarkah demikian? Lantas, bagaimana kita mempertahankan kesuksesan yang sudah susah payah didapatkan?


Banyak orang yang mengejar kondisi puncak (menjadi nomor satu, meraih prestasi paling gemilang, dikenal banyak orang, dan sejenisnya) sebagai patokan untuk menggapai kesuksesan. Sayang, saat sukses sudah didapat, seolah tak ada lagi hal lain yang dikejar. Otak dan tubuh pun seperti kehilangan arah. Ujungnya, kerja tak lagi fokus, merasa sudah berada di zona nyaman, karena sudah mencapai apa yang didambakan. Hasilnya, motivasi pun menurun drastis. Passion yang menggebu-gebu sebelumnya, seolah hilang begitu saja.
Jika dibiarkan terus terjadi, prestasi demi prestasi gemilang yang didapat, pelan tapi pasti hanya akan jadi cerita usang. Lantas, apa yang harus kita lakukan bila sudah dalam puncak sukses dan ingin berusaha mempertahankannya?

Cari tantangan lain yang besar dan menantang
Boleh saja kita menikmati kesuksesan yang didapat, apalagi dengan bersenang-senang dan bersyukur atas prestasi yang diperoleh. Namun, jangan terlalu lama menikmatinya. Sebab, tantangan masih ada. Cari tantangan besar lain yang menantang untuk kembali ditaklukkan. Dengan begitu, tubuh dan pikiran kita akan kembali bereaksi untuk segera berlari dan mendaki tantangan baru yang kita tetapkan.

Coba ulangi dengan cara yang beda
Jika sudah merasa memperoleh apa saja yang kita impikan, jangan terlena. Ingat, bahwa hidup ini seperti roda yang terus berputar. Sukses hari ini bukan berarti sukses esok hari. Posisikan diri kita laksana seorang pelari maraton dengan lintasan lari yang terus berputar kembali ke awal, namun dengan lawan yang berbeda-beda. Dengan begitu, kita akan terus menemui "lawan" untuk ditaklukkan.

Cobalah untuk berbagi
Setelah semua didapat, munculkan rasa ingin berbagi dengan orang lain. Sebab, dengan berbagi, akan memunculkan rasa bahagia. Dan, biasanya, rasa ini tak akan habis, justru akan terus bertambah dan bertambah seiring banyak hal yang bisa kita bagikan. Karena itu, dengan terus berbagi, kita akan terpacu untuk terus melangkah dan mewujudkan bukan hanya kebahagiaan diri, tapi juga orang lain.

Ubah sudut pandang
Saat sudah berada di puncak dan seolah "malas" untuk melakukan sesuatu, segeralah ubah sudut pandang. Misalkan kita sudah sukses sebagai pengusaha, cobalah ubah sudut pandang kita bagaimana jika kita dalam posisi "karyawan". Atau, misalnya saat kita sudah sukses menjadi pemimpin, cobalah ubah sudut pandang bagaimana rasanya "kembali" menjadi bawahan. Atau, carilah hal-hal baru yang belum pernah kita jumpai dan lakukan sebelumnya. Sensasi-sensasi yang dimunculkan dari permainan pikiran hanya dengan mengubah sudut pandang ini biasanya akan memunculkan tantangan-tantangan lain yang bisa menjadikan hidup kita lebih dinamis.

Belajar dari orang lain
Bisa jadi kita ahli di satu bidang, tapi orang lain jauh lebih unggul dibandingkan kita pada bidang yang lain. Dengan terus mencari pembanding, kita akan terpacu untuk mampu menemukan tantangan demi tantangan. Misalnya, kita jago di marketing, kita coba cari jagoan lain di bidang distribusi. Atau, kita pandai menulis, coba kita cari ahli menggambar. Dengan mencoba "belajar" dari orang lain dan menjadikan diri kita "kembali belajar dari nol", akan membuat kita bisa menemukan hal baru untuk terus kita taklukkan.



====================================================================

Promoted By :



Menciptakan Faktor Kaya ( R.i.c.h ) Dalam Diri Anda.



Semua orangpasti ingin menjadi kayadan hidupberkelimpahan. Sebenarnya kita semua mempunyai hak yang sama untuk mendapatkannya. Anda bisa kaya secara material maupun spiritual dengan mengaktifkan dan menciptakan faktorkekayaan dalam diri Anda, diantaranya :

1. Realize your potential (Menyadari potensi Anda). Setiap individu dilahirkan dengan potensi dan bakat tersendiri, yang paling penting yaitu kita harus menyadari potensi diri kita sendirisehingga bisa mengembangkannya menjadi keunggulan pribadi kita. dengan menyadari potensi dan bakat kita itu adalah faktor kekayaan yang paling utama yang bisa kita kembangkan menjadi apa saja yang kita inginkan.

2. Increase your level of service everyday in everyway. Meningkatkan pelayanan Anda setiap hari dengan segala cara. Dengan selalu memberikan pelayanan yang terbaik yang kita bisa dan seantiasa memberiyang lebih baik dalam apapun yang kita lakukan otomatis akan menapatkan imbalan yang sepantasnya buat kita.

3. Challenge your skill with new activities and tasks. Menguji keterampilan Anda dengan melakukan kegiatan dan tugas baru. Senantiasa melakukan sesuatu diluar zona kebiasaan kita, dengan selalu mencoba kegiatan dan hal-hal baru kita akan banyak belajar dan secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan kemampuan kita dalam menyelesaikan berbagai tantangan dalam situasi apapun.

4. Harmonise with people and the environment around. Menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang-orang dan linkungan Anda. Dalam melakukan apapun kita pasti selalu berhubungan dengan orang lain disekitar kita, oleh sebab itu kita harus selalu menghargai kepentingan orang lain dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan mereka maupun dengan lingkungan sekitar kita sehingga apapun yang kita lakukan akan lebih bermakna.

Dengan mengaktifkan 4 faktor (unsur) kaya diatas, semua dari kita akan menjadi kaya secara jasmani maupun rohani, material maupun spiritual sehingga kita bisa menjadi orang kaya seutuhnya dan hidup lebih berprestasiserta harmonis dengan orang-orang dan lingkungan disekitar kita.
Salam Sukses, Sehat, Kaya & Bahagia !

Rudy Lim

====================================================================

Promoted By :





Belajar dari Pohon






1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri.
Untuk hidup / tumbuh, pohon memperoleh makan dari tanah. Semakin dalam akarnya, makin banyak nutrisi yang diserap.

Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan.
Kenapa buah kurma manis sekali? Pohon kurma itu ditanam di padang pasir. Bijinya ditaruh di kedalaman 2 meter, kemudian ditutup dengan 4 lapisan. Sebelum pohon kurma itu tumbuh, dia berakar begitu dalam sampai kemudian menembus 4 lapisan tersebut dan menghasilkan buah yang manis di tengah padang pasir.

Intinya, kita perlu proses perjuangan yang luar biasa ketika kita menginginkan hasil yang luar biasa pula. Bisakah kita menjadi seperti "pegas" yang memiliki daya dorong kuat ketika ditekan?

2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang.
Kadang kita protes, kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain. Inilah prinsip memberi.

Kita ini bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk memberi buah.
Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang memerlukan, bukan demi diri sendiri.

Cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu; tapi tidak pernah ada kata cukup untuk memberi berkah pada orang lain dengan pemberian kita.

3. Buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan multiplikasi.

Ini bicara tentang bagaimana hidup kita memberi dampak positif terhadap orang lain.

Bila kita menjadi seorang pemimpin..itu bukan masalah posisi/ jabatan, tapi mengenai pengaruh dan inspirasi yang bisa diberikan kepada orang lain.
____

"Semoga kita semua bisa menjadi 'Pohon' yang Bermanfaat!"
Salam sukses, Luar Biasa!!

====================================================================

Promoted By :







Senin, 26 Desember 2011

5 Cara Memadamkan Api Kemarahan





1. Ketika seseorang yang tindakannya tidak baik tetapi ucapannya baik, kita seharusnya tidak mempedulikan tindakannya dan hanya memperhatikan ucapannya.

2. Ketika seseorang yang berucap tidak baik tetapi bertindak baik, jangan mempedulikan ucapannya, tetapi perhatian terhadap tindakannya yang baik.

3. Ketika seseorang yang ucapan dan tindakannya tidak baik, tetapi masih ada sedikit kebaikan hati, jangan mempedulikan tindakan dan ucapannya, tetapi perhatikanlah kebaikannya yang sedikit itu.

4. Ketika seseorang yang tindakan dan ucapannya tidak baik dan di dalam hatinya tidak ada kebaikan walaupun sedikit, bukalah pintu hati kita dengan cinta dan belas kasih.

5. Dan terhadap seseorang yang tindakan, ucapan, dan pikirannya baik, berikan perhatian / semua kebaikan tubuh (tindakan), ucapan, dan pikiran kita padanya.

oleh
Thich Nhat Han
Master Zen & Kandidat Peraih Nobel Perdamaian 2010 asal Vietnam


====================================================================

Promoted By :